Agama untuk Siapa dan Apa 3

Submitted by afton on Thu, 07/05/2018 - 18:32

AGAMA UNTUK SIAPA, UNTUK APA (3)

Mengapa Manusia ?

Al-Qur'an menyatakan bahwa manusia adalah makhluk terhormat. 

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam. Kami tempatkan mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik serta Kami unggulkan mereka sedemikian unggul atas kebanyakan ciptaan Kami”.(Q.S. al Isra, 70).

Sangat jelas, berdasarkan teks al Qur'an di atas, bahwa Tuhan sendiri sangat menghormati manusia. Dan manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling unggul di banding ciptaan Tuhan yang lain, termasuk Malaikat. Tuhan tidak menyebut identitas-identitas sosio-kultural bahkan tidak juga agama manusia.   

Atas dasar penghargaan itulah, Tuhan menyerahkan kepadanya tanggungjawab pengelolaan,  pengaturan dan pemakmuran bumi ini. Al-Qur'an menyebutnya sebagai "Amanah"(kepercayaan). 

Al-Qur'an menyebut manusia dengan tugas dan tanggung jawab itu sebagai Khalifah fi al Ardh. Kata ini biasa diterjemahkan  dengan "wakil Tuhan". 

Dalam sebuah drama kosmik Tuhan menyatakan tugas kekhilafahan tersebut :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

"Ketika Tuhan mengatakan kepada para Malaikat : "Sungguh, Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi", mereka berkata : "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau". Tuhan berfirman : "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat, lalu berfirman : "Sebutkanlah kepada-Ku nama- benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar".(Q.S. al Baqarah, 2:30-31).

Ayat al-Qur'an di atas ingin menjelaskan bahwa keunggulan manusia atas Malaikat terletak pada pengetahuannya tentang segala sesuatu dan berbagai hal. Pengetahuan merupakan unsur utama mengapa manusia lebih unggul dari ciptaan Tuhan yang lain. Ialah yang menjadikannya berbeda dari makhluk Tuhan yang lain dan yang membuatnya menjadi istimewa. 

Tuhan menyuruh Adam untuk menyebutkan dan mengenali "nama-nama" yang ada di sekitarnya. Hal ini tentu mengandung makna yang mendalam dan luas. Nama adalah simbol-simbol atau tanda-tanda. Ia adalah symbol/tanda bagi seluruh ciptaan Tuhan. 

Para filosof mengatakan bahwa manusia merupakan ciptaan Tuhan paling agung, karena di dalam dirinya terhimpun seluruh potensi alam semesta. Potensi tumbuh-tumbuhan, kebinatangan, intelektual. Atau dalam bahasa yang lain potensi akal intelektual, Ruhani/spiritual dan gerak Fisik. Manusia diciptakan Tuhan dari semua unsur yang ada di alam semesta: tanah, air, api, angin dan cahaya . Kaum sufisme, semacam Ibnu Arabi menyebut manusia sebagai "alam shaghir", atau mikrokosmos.  Apa yang ada pada manusia merupakan cerminan dari partikel-partikel alam semesta. Meski kecil, tetapi ia merupakan makhluk istimewa yang mencerminkan segala realitas yang ada di semesta besar (alam Kabir/makrokosmos).

Sebuah hadits sahih menyebut :

خلق الله آدم على صورته 

"Allah menciptakan Adam (manusia) menurut citra-Nya".

Ada banyak tafsir mengenai ini. Tetapi tafsir populer menyebut makna "citra" sebagai sifat-sifat. Jadi manusia diciptakan Tuhan dengan memiliki sifat-sifat Tuhan. Tetapi sifat-sifat manusia tidak sama dengan sifat-sifat Tuhan. 

Perbincangan soal ini memang menarik tetapi juga sangat rumit. Dibutuhkan pengetahuan mendalam, filsafat dan sastra. 

Sumber: KH Husein Muhammad

(Bersambung).