Agama Untuk Siapa dan Apa (4)

Submitted by afton on Thu, 07/05/2018 - 18:17

AGAMA UNTUK SIAPA DAN APA (4)

Untuk manusia di dunia

Ibnu Asyur, pemikir Islam kontemporer dan penulis Tafsir Al-Tahrir wa al-Tanwir,  mengemukakan pandangannya yang saya kira sangat menarik. Ia mengatakan :

شريعة الاسلام جآءت لما فيه صلاح البشر فى العاجل والآجل أى فى حاضر الامور وعواقبها وليس المراد بالآجل أمور الآخرة . لان الشرائع لا تحدد للناس سيرهم فى الآخرة ولكن جعلها الله جزآء على الاحوال التى كانوا عليها فى الدنيا. لما كانت شريعة الاسلام ضابطة للسلوك الدنيوى فان المصلحة التى جاءت لتحقيقها لا يمكن ان تكون الا دنيوية , تهدف فى المقام الاول الى ضبط العالم الدنيوى.

 “Syari‟ah Islam dihadirkan untuk kemaslahatan manusia di dunia sekarang dan nanti. Yang dimaksud dengan nanti bukanlah kehidupan di akhirat. Karena semua syari’at tidak mengatur urusan kehidupan manusia di akhirat, akan tetapi Allah menjadikan akhirat sebagai tempat dan saat pertanggungjawaban manusia atas perbuatan/tingkah laki nya selama di dunia. Manakala syari’at Islam merupakan aturan manusia di dunia, maka kemaslahatan yang harus diwujudkan tidak mungkin kecuali di dalam dunia ini. Ia diarahkan, dalam posisi utama, untuk pengaturan manusia di alam dunia. (Ismail al Hasani, Nazhariyat al Maqashid 'ind al Imam Muhammad Thahair ibn „Asyur, al Ma‟had al „Alami li al Fikr al Islami, Virginia, USA, cet. I, 1995, hal. 281.

Rumusan tersebut sepertinya berbeda dengan pandangan mayoritas ulama.  Pada umumnya para ulama menyatakan bahwa syari’at dimaksudkan untuk kebaikan/kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat (fi al-ma’asy wa al-ma’ad atau fi al-dunia wa al-akhirah). Akhirat dimaksudkan sebagai suatu kehidupan sesudah kematian manusia. Ibnu Asyur tampaknya sengaja mengemukakan hal itu dalam rangka menegaskan tentang perlunya kaum muslimin memberikan appresiasi lebih besar terhadap persoalan-persoalan social/publik, kebangsaan dan kemanusiaan daripada urusan-urusan individual. Ibnu Asyur merasakan bahwa selama kurun waktu yang panjang, perhatian kaum muslimin terhadap urusan syariah individual begitu dominan, sementara mereka kurang responsip terhadap urusan-urusan sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi serta hal-hal publik lainnya. 

Jamal al-Banna dalam bukunya “Nahwa Fiqh Jadid” menyebut : tulisan-tulisan para ulama fiqh tentang ibadah personal jauh lebih banyak daripada tentang “al-mu’amalat”. Katanya : 

تضخم الفقه العبادى تضخما غطى على بقية مجالات وموضوعات الفقه الاسلامى الذى يضم الشريعة وما فيها من نظم سياسية واقتصادية واجتماعية

“fiqh ibadah berkembang begitu besar. Ia mendominasi bidang-bidang dan kajian-kajian fiqh Islam, di mana syari’at meliputi aturan-aturan tentang politik, ekonomi dan sosial”.
.  
Jika pandangan ini diikuti maka mungkin akan menimbulkan implikasi penting terutama dalam kaitannya dengan bidang-bidang kehidupan social kemasyarakatan dan kebudayaan masyarakat muslim (Majaalat al-Mu’amalat al-Madaniyah). 

Sumber : KH Husein Muhammad